Inventing Education : Catatan Kritik Pemikiran Freire dan Illich tentang Pendidikan
Sejak menjadi mahasiswa, paradigma saya tentang pendidikan mulai bergeser ketika membaca Pedagogy of the Oppressed karya Paulo Freire. Perjumpaan berikutnya—meski melalui ringkasan—dengan gagasan Ivan Illich tentang deschooling society semakin menegaskan kegelisahan itu. Keduanya menyumbang kritik mendasar terhadap pendidikan modern, terutama bagaimana pendidikan beroperasi dalam logika kapitalisme dan dipraktikkan melalui apa yang oleh Freire disebut sebagai banking system: pengetahuan ditransfer, murid diperlakukan sebagai wadah kosong, dan pendidikan kehilangan daya pembebasannya.
Saya sepakat bahwa kapitalisme dan banking system adalah akar persoalan pendidikan modern. Pendidikan tidak lagi dimaknai sebagai proses pemanusiaan, melainkan sebagai mekanisme produksi dan seleksi. Sekolah berubah menjadi arena standarisasi, nilai menjadi mata uang simbolik, dan ijazah menjadi komoditas yang menentukan posisi seseorang dalam struktur sosial.
Namun, di tengah ketajaman kritik itu, saya melihat satu persoalan fundamental yang nyaris luput dari perhatian Freire maupun Illich: bagaimana pendidikan dasar—terutama pada level taman kanak-kanak dan sekolah dasar—seharusnya difungsikan. Padahal justru di sanalah fondasi cara berpikir manusia dibentuk.
Jika banking system adalah masalah, maka pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana membongkarnya di universitas atau ruang kesadaran politik, tetapi: kapan sistem itu pertama kali ditanamkan? Jawabannya hampir selalu kembali ke pendidikan dasar. Di usia dini, anak-anak mulai diperkenalkan pada disiplin waktu, hierarki otoritas, logika benar–salah yang kaku, serta sistem penilaian yang secara perlahan membentuk rasa percaya diri atau rasa gagal. Relasi subjek–objek yang dikritik Freire sesungguhnya sudah bekerja jauh sebelum anak memiliki bahasa untuk menyadarinya.
Ironisnya, pendidikan dasar kerap dibungkus dengan narasi paling ideal: pembangunan karakter, generasi emas, penanaman nilai. Tetapi di balik bahasa normatif itu, praktik yang berlangsung justru sangat instrumental. Anak dipersiapkan untuk menyesuaikan diri dengan sistem, bukan untuk memahami dirinya dan dunia. Pertanyaan dianggap gangguan, imajinasi diarahkan, dan perbedaan dilunakkan agar sesuai dengan standar.
Dari titik inilah saya menawarkan sebuah pergeseran paradigma yang saya sebut inventing education.
Inventing education berangkat dari kritik yang sama dengan Freire dan Illich, tetapi tidak berhenti pada penolakan institusi atau struktur. Ia mengusulkan perubahan yang lebih mendasar: menggeser pendidikan dari sistem berbasis seleksi menuju sistem berbasis pemetaan potensi. Pergeseran ini bersifat epistemologis, bukan sekadar metodologis.
Paradigma dasarnya adalah pengakuan bahwa manusia itu unik, berbeda, dan sama nilainya. Kesetaraan manusia tidak terletak pada keseragaman kemampuan, melainkan pada kesetaraan nilai eksistensial. Setiap individu membawa konfigurasi potensi yang tidak pernah identik—bukan hanya kognitif, tetapi juga afektif, imajinatif, etis, sosial, dan ekologis.
Masalah pendidikan modern adalah ia tidak pernah benar-benar bekerja dari asumsi ini. Sejak awal, pendidikan dirancang sebagai mesin seleksi. Kurikulum diseragamkan, kecerdasan direduksi, dan keberhasilan ditentukan oleh kesesuaian dengan sistem. Yang bertahan adalah mereka yang kompatibel dengan logika sistem; yang tersingkir adalah mereka yang potensinya tidak terbaca oleh instrumen penilaian.
Dalam konteks ini, kapitalisme tidak hadir sebagai ideologi yang diajarkan, melainkan sebagai logika yang dioperasikan. Kompetisi, efisiensi, produktivitas, dan hierarki bekerja secara halus melalui pendidikan. Sekolah tidak sekadar mendidik, tetapi menyaring. Pendidikan menentukan siapa pemenang dan yang kalah, sejak dini.
Pemetaan potensi menawarkan logika yang berlawanan. Ia tidak bertanya “siapa yang paling unggul”, tetapi “potensi apa yang dimiliki dan bagaimana ia bisa tumbuh”. Dalam paradigma ini, pendidikan dasar tidak bertugas mengembangkan kecerdasan dalam arti sempit, melainkan membaca manusia. Anak tidak diposisikan sebagai proyek masa depan, tetapi sebagai subjek utuh di masa kini.
Dengan demikian, pendidikan tidak lagi memaksa manusia menyesuaikan diri dengan sistem, tetapi menantang sistem untuk menyesuaikan diri dengan manusia. Keberhasilan pendidikan tidak diukur dari keseragaman capaian, melainkan dari kemampuan sistem menyediakan ruang tumbuh bagi keberagaman potensi.
Di titik ini, inventing education bukan sekadar kritik terhadap kapitalisme pendidikan, tetapi upaya keluar dari logika dasarnya. Bukan dengan slogan anti-kapitalisme, melainkan dengan mengganti cara kita memahami manusia sejak awal. Tanpa membongkar fungsi pendidikan dasar, kritik terhadap banking system akan selalu datang terlambat—setelah subjeknya terbentuk, setelah rasa takut salah mengeras, dan setelah potensi manusia tereduksi.
Inventing education, dengan demikian, adalah upaya mengembalikan pendidikan pada tugas paling mendasarnya: memanusiakan manusia, bukan menyeleksi manusia.
5 Juni 2020
26 Desember 2022