ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM DAN SURVEY KARAKTER

ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM DAN SURVEY KARAKTER

A.  Pendahuluan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Nadiem Makariem pada peringatan Hari Guru Nasional dalam sambutanya menyampaikan dua poin yakni guru merdeka dan guru penggerak (Tempo, Senin, 25 November 2019 10:31). Makna guru merdeka memiliki makna pendiikan atau sekolah , guru dan muridnya memiliki kebebasan untuk berinovasi belajar dengan mandiri dan kreatif. Guru penggerak memiliki perbedaan dengan guru biasa, yang mana guru penggerak mengutamakan muridnya dari apapun. Guru penggerak mengutamakan murid dan pembelajaran murid. Guru itu akan memgambil tidakan tanpa disuruh tanpa diperintah untuk melakukan terbaik untuk muridnya itu guru penggerak

Guru merdeka dan penggerak ditandai dengan kemampuan dan kompetensi mengembangkan kemandirian dalam berinovasi belajar secara kreatif serta mampu menggerakkan peserta didik dalam pembelajaran secara merdeka. Ada empat program pokok kebijakan pendidikan 'Merdeka Belajar.'. Program tersebut meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

Berkenaan dengan Ujuan Nasna (UN) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Nadiel Makarim menyatakan  bahwa pelaksanaan Ujian Nasional (UN) akan berakhir tahun 2020. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memutuskan mengganti Ujian Nasional dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter mulai 2021. Pemerintah mengklaim sudah merancang dan menguji coba sistem ini. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, Totok Suprayitno, mengatakan lembaganya mengkombinasikan PISA dengan TIMSS. Selanjutnya, Kementerian membuat prototipe metode asesmen ini. Ia menyatakan metode ini sudah dirancang dan diujicobakan. “Ini ada di AKSI (Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia)  (Koran Tempo, Sabtu, 14 Desember 2019).

Patokan metode ini adalah metode asesmen Programme for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS).bAKSI merupakan program pemetaan capaian pendidikan untuk memantau mutu pendidikan secara nasional atau daerah yang menggambarkan capaian kemampuan siswa. Asesmen ini membantu guru mendiagnosis kemampuan siswa pada topik-topik substansial.

PISA merupakan survei tiga tahunan yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang menilai kemampuan 600 ribu siswa berusia 15 tahun yang telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan utama di 79 negara. Berdasarkan hasil survei pada 2018, kualitas pendidikan Indonesia turun pada semua bidang kompetensi dibanding survei terakhir PISA pada 2015. Skor kompetensi membaca pelajar Indonesia turun paling dalam dari 397 menjadi 371, matematika dari 386 menjadi 379,  dan sains dari 403 menjadi 396. Adapun metode TIMSS merupakan indikator kualitas pendidikan yang berasal dari International Association for the Evaluation of Educational Achievement. Penilaian TIMSS menekankan pada kompetensi matematika dan sains.

 

 

Wartakotalive 2019

Sebagai pengganti Unjian Nasional maka pada tahun 2021 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan diubah menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter. Asesmen ini terdiri atas kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter.

Aspek kognitif dalam Asesment Kompetisi Minimum meliputi dua materi Literasi dan numerasi. Dalam aspek literasi, Menter Penddan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menekankan aspek pemahaman dan analisis dalam bacaan. Menurutnya, kemampuan memahami konsep bacaan tersebut merupakan hal yang lebih penting. Literasi itu bukan hanya kemampuan membaca, literasi adalah kemampuan menganalisa sesuatu bacaan. Kemampuan mengerti atau memahami konsep di balik tulisan itu.  Sedang materi numerasi merupakan kemampuan menganalisis angka-angka (Wartakotalive )

Jelas bahwa kemampuan tidak cukup diajarkan kepada siswa hanya sebagai ketrampilan membaca suatu teks atau artikel atau bahan ajar tapi bagaimana kegiatan literasi akan membawa kepada siswa uuntuk mampu mamahami bahan bacaan  akan tetapi dapat mendorong siswa untuk menganalisis suatu bacaan sehingga akan dapat memahami konsep dibalik tulisan.

Berkenaan dengan Asesmen Kompetensi Minimal penulis akan mencoba mengupas apa dan bagaimana bentuk Asesmen Kompetensi Minimal dan Survei Karakter yang akan dikembangkan sebagai pengganti Ujian Nasional pada tahun 2021

B.  Pembahasan

1.  Pembelajaran Abad 21

Untuk mengembangkan pembelajaran abad 21, guru harus memulai satu langkah perubahan yaitu merubah pola pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru berperan sebagai pendorong dan fasilitator agar siswa bisa sukses dalam kehidupan. Satu hal lain yang penting yaitu guru akan menjadi contoh pembelajar (learner model), guru harus mengikuti perkembangan ilmu terakhir sehingga sebetulnay dalam seluruh proses pembelajaran ini guru dan siswa akan belajar bersama namun guru mempunyai tugas untuk mengarahkan dan mengelola kelas. Untuk mampu mengembangkan pembelajaran abad 21 ini ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan yaitu antara lain :  Tugas Utama Guru Sebagai Perencana Pembelajaran Sebagai fasilitator dan pengelola kelas maka tugas guru yang penting adalah dalam pembuatan lesson plan (perencanaan pembelajaran)  . Lesson Plan harus dibuat secara efektif ,efisien dan berorientasi pada pembelajaran siswa serta sederhana  mampu menjelaskan semua proses yang akan terjadi dalam kelas termasuk proses penilaian dan target yang ingin dicapai. Dalam menyusun lesson plan , guru harus mampu mengkombinasikan antara target yang diminta dalam kurikulum nasional, pengembangan kecakapan abad 21 atau karakter nasional serta pemanfaatan teknologi dalam kelas.,memasukkan unsur Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking) Teknologi dalam hal ini khususnya internet akan sangat memudahkan siswa untuk memperoleh informasi dan jawaban dari persoalan yang disampaikan oleh guru. Untuk permasalahan yang bersifat pengetahuan dan pemahaman bisa dicari solusinya dengan sangat mudah da nada kecenderungan bahwa siswa hanya menjadi pengumpul informasi. Guru harus mampu memberikan tugas di tingkat aplikasi, analisa, evaluasi dan kreasi, hal ini akan  mendorong siswa untuk berpikir kritis dan membaca informasi yang mereka kumpulkan sebelum menyelasikan tugas dari guru. Prinsip Pokok Pembelajaran Abad 21 Dalam buku paradigma pendidikan nasional abad XXI yang diterbitkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) atau membaca isi Pemendikbud No. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses, BSNP merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan abad ke-21. Sedangkan Pemendikbud No. 65 tahun 2013 mengemukakan 14 prinsip pembelajaran, terkait dengan implementasi Kurikulum.  Sementara itu, Jennifer Nichols (Abdurrahman 2016)  menyederhanakannya ke dalam 4 prinsip pokok pembelajaran abad ke 21yang dijelaska  dan dikembangkan seperti berikut ini:

  1. Instruction should be student-centered Pengembangan pembelajaran sebaiknya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
  2. Education should be collaborative. Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
  3. Learning should have context Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
  4. Schools should be integrated with societ.  Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya

Dari uraian diatas pembelajaran abad 21 menutut guru sebagai pendidik mampu merancang dan mengembangkan pembelajaran yang Critical Thinking &Problem Solving, Creativity &Innovation, Communication, collaboration (4C). Melibatkan Higher Other Thinking Skill (HOTs) dalam pembelajaran dan asesmen , mengembangkan literasi dan menanamkan serta menguatkan nilai karakter yang meliputi religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas dalam  proses kegiatan pembelajaran

2.  Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter

AKM merupakan salah satu gebrakan yang dilakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim melalui program Merdeka Belajar. "Tahun 2021 UN akan diganti menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter," ujar Nadiem saat memaparkan program Merdeka Belajar di Hotel Bidakara,Jakarta, akhir tahun lalu. Menurut Nadiem, AKM dapat menjadi penilaian yang lebih komprehensif untuk mengukur kemampuan minimal siswa. Nantinya, AKM akan berisi materi yang meliputi tes kemampuan literasi, numerasi dan pendidikan karakter

Plt Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Totok Suprayitno. Menurut Totok, soal AKM akan sangat berbeda dengan soal UN sehingga siswa maupun guru perlu lebih menyiapkan diri. "Di UN jarang dikenal soal (AKM) ini. Jadi kira-kira, soal AKM yang berbeda dengan UN lebih kepada pemahaman," terang Totok dalam Bincang Sore Kemendikbud, di Jakarta, Rabu (11/3/2020). Totok menjelaskan, soal numerasi pada AKM bukan lagi soal matematika yang identik dengan angka-angka dan rumus. Melainkan bagaimana menyelesaikan persoalan dengan nalar matematika. "Misalnya persoalan kapan sampah itu bisa terurai agar tidak mencemari lingkungan. Kehidupan sehari-hari akan kita angkat dalam soal supaya anak juga kenal dengan persoalan hidup sekaligus bisa menjawab soal ujian," Contoh soal Numerasi yang disajikan Kemendikbud terbagi atas beberapa level, yakni level Pemahaman Konsep, level Aplikasi Konsep dan level Penalaran Konsep. Sedangkan literasi terbagi atas level Mencari Informasi dalam Teks, level Memahami Teks, dan level Mengevaluasi dan Merefleksi Teks

AKM dan survei karakter, terdiri dari soal-soal yang mengukur kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter. Bentuk soal AKM akan diperkenalkan kepada siswa yang mengikuti simulasi UN tahun ini, sehingga ada kemungkinan pula bentuk-bentuk soal tersebut juga akan keluar saat UN utama nantinya. Sedangkan bagi guru juga akan diperkenalkan bentuk soal AKM sebagai gambaran bagaimana mengelola proses pembelajaran kedepannya dan bagaimana melakukan penilaian dengan bentuk soal AKM.

Bentuk soal AKM yang diperkenalkan kepada guru, tidak terbatas hanya untuk guru mata pelajaran yang di UN-kan saat ini, akan tetapi untuk semua guru mata pelajaran. Artinya bentuk soal AKM merupakan bentuk soal lintas kompetensi, lintas bidang dan/atau lintas mata pelajaran. Tidak lagi membedakan mata pelajaran secara signifikan akan tetapi melihat sebuah kompetensi sebagai gambaran utuh dari puzzle berbagai mata pelajaran. Mata pelajaran yang ada akan menjadi “tools” untuk membentuk kompetensi tersebut.

Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter akan diselenggarakan pada pertengahan jenjang sekolah. Kompetensi yang diukur benar-benar minimum yakni literasi dan numerasi. Literasi bukan mengukur kemampuan membaca tapi menganalisis suatu bacaan. Sedangkan numerasi yakni kemampuan menganalisis dan menggunakan angka. Penilaian juga dilakukan dengan survei karakter. Hal itu bertujuan untuk mengetahui ekosistem sekolah. Selama ini, lanjut dia, yang dimiliki hanya data kognitif tanpa mengetahui bagaimana pengamalan Pancasila diterapkan. Penilaian ini dilakukan di tengah jenjang, dengan harapan memberikan kesempatan pada guru untuk melakukan perbaikan. Ini sifatnya formatif berguna bagi sekolah dan juga siswa

3.   Model Asesmen Kompetensi Minimal dan Survei Karakter

Ada dua Kompetensi  yang disampaikan oleh Mendikbud Nadiel Makariem dengan Komisi X DPR RI tentang Kebijakan Merdeka belajar Literasi bukan kompetensi membaca alam Asesmen Kompetensi Minimum, yaitu kompetensi literasi dan kompetensi numerasi. Kompetensi literasi adalah kompetensi memahami konsep bacaan dan kompetensi numerasi bukan sekedar kemampuan menghitung akan tetapi kemampuan mengaplikasikan konsep hitung menghitung dalam konteks abstrak dan nyata.. sedang survei karakter akan mengukur seberapa jauh azas pancasila diterapkan dalam kehidupan, bagaimana sila sila yang ada di dalam pancasila diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari baik di kelas, di sekolah, di rumah dan lingkungan dan bagaimana siswa dapat dilaksanakan secara terbuka.

Kegiatan AKM dan survei karakter dilaksanakan tidak pada akhir jenjang pendidikan tapi akan dilaksanakan ditengah jenjang , Kelas II, IV, V, VIII, dan XI.

Contoh AKM Mathematic Literasi (Literasi Numerik)

a.  Jika Amir membeli sepatu seharga Rp. 400.000 dan mendapat diskon 50% + 20 %. Berapa Harga sepatu yang harus dibayarkan ....

  1. Rp. 120.000                              C. Rp. 160.000                        E. Rp. 200.000
  2. Rp. 140.000                              D. Rp. 180.000

Pada masalah di atas siswa diminta untuk bisa memaknai Diskon 50% + 20 %, bisa jadi makna 50% + 20% = 70 %, atau setehan didiskom 50% selanjutnya hasilnya didiskon 20%

b.   Jarak dari rumah Saya ke sekolah adalah 30 mmenit dengan bus. Tanpa diketahui sebelumnya,  hari ini  angkutanumum melakukan aksi mogok beroperasi. Akibat kejadian ini saya ....

  1. Saya akan menunggu siapa tahu ada orang memberi tumpangan
  2. Saya berusaha menghentikan setiap kendaraan yang lewat untuk mendapatkan tumpangan
  3. Saya akan berjalan kaki secepat mungkinn
  4. Lebih baik pulang dan tidak ke sekolah
  5. Saya akan berjalan kaki sambil berusaha mencari tumpangan

Pada masalah ini seolah kemampuan literasi numerik siswa dipancing dengan hubngan waktu dan jarak biasanya ternyata masalah diarahkan pada survei karak terterhadap pengamalan nilai karakter dari Pancasila

c.   Deny ingin membeli HP dari hasil tabungannya. Tiba-tiba teman  sebangku Deny ,Komang mengalami musibah kebakaran, yang mengakibatkan semua buku dan perlengkapan sekolah semuanya terbakar. Sedangkan beberapa saat lagidiadakan Ujian Nasional. Apa tindakan yang sebaiknya dilakukan Deny kepada Komang ....

  1. Menyumbangkan uang tabungan kepada Komang dan menunda untuk membeli HP
  2. Menyisihkan uang tabungan untuk komang membeli Buku
  3. Meminjamkan semua buku pelajaran untuk Komang
  4. Meminjamkan semua buku pelajaran kepada Komang untuk di foto copi
  5. Mengajak Komang untuk belajar bersama-sama

Penulis:

Editor:

Sumber: