ASN Dalam Organisasi
  • Admin
  • 27 Januari 2026
  • 71x Dilihat
  • Opini

ASN Dalam Organisasi

Beberapa pekan lalu, tepatnya tanggal  27 Rajab 1448 H atau 16 Januari 2026 M saya bersama teman-teman mengikuti dan berperan serta menyukseskan kegiatan Musyawarah Wilayah (Muswil) di salah satu Organisasi Keagamaan. Momen tersebut merupakan wadah untuk pertanggungjawaban sekaligus menetapkan pengurus yang baru. Masih belanjut, akhir pekan lalu selama 2 hari kembali bergabung dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) untuk membahas program kerja selama satu tahun kedepan. Sok sibuk banget sih...barangkali akan muncul komentar tersebut, atau muncul komentar lain seperti ngapain sih bersusah-susah menyibukkan diri, bikin capek saja.  Komentar-komentar tersebut merupakan hal yang wajar muncul jika kita tidak bisa melhat dan mengambil sisi baik dalam berorganisasi.

Menurut saya, banyak manfaat positif yang bisa kita peroleh dengan berorganisasi, antara lain; bisa memperoleh ilmu dan wawasan baru, meningkatkan ukhuwah, melatih ketrampilan komunikasi, dan banyak hal positif lainnya. Terlibat dalam kepengurusan organisasi bukan sekedar menempelkan nama namun ada amanah yang harus di pertanggungjawabkan tidak hanya di hadapan manusia namun juga pertanggungjawaban yang lebih berat kepada Allah. Saya berpikir bahwa amanah itu merupakan wadah untuk mengaplikasikan ilmu, pengetahuan dan  pengalaman sekaligus wujud komitmen dan loyalitas terhadap organisasi.

Di sisi lain, sebagai bagian dari ASN saya tetap harus memperhatikan peran strategis ASN dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. ASN tidak hanya dituntut profesional dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, tetapi juga diharapkan memiliki kepekaan sosial, kemampuan bekerja sama, serta jiwa kepemimpinan. Salah satu sarana penting untuk mengembangkan kualitas tersebut adalah melalui keikutsertaan dan keaktifan dalam organisasi, baik organisasi kedinasan, kemasyarakatan, maupun keagamaan.

Keikutsertaan ASN dalam organisasi memiliki beberapa peran penting, antara lain: 1) Pengembangan Kompetensi Diri, melalui organisasi, ASN dapat mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja tim, serta pengambilan keputusan, 2) Penguatan Etos Kerja dan Integritas, organisasi mendorong ASN untuk belajar bertanggung jawab, disiplin, dan berkomitmen terhadap tujuan bersama, 3) Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, ASN yang aktif berorganisasi cenderung memiliki wawasan sosial yang lebih luas dan empati yang lebih baik terhadap masyarakat, 4) Membangun Jejaring dan Solidaritas, organisasi menjadi wadah membangun relasi, memperkuat kolaborasi, serta menciptakan suasana kerja yang harmonis. Dengan demikian, keaktifan berorganisasi bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian dari proses pembentukan ASN yang profesional dan berkarakter.

Hal ini mengingatkan saya kembali dengan materi kuliah Perilaku Organisasi yang mana ketika seseorang merasa puas dan kebutuhan dasarnya terpenuhi atau jika menurut teori Hierarki Kebutuhan (Abraham Maslow) yaitu jika kebutuhan tingkat rendah (fisik, rasa aman, sosial, dan harga diri) sudah terpenuhi dan seseorang merasa puas, maka seseorang tidak akan berhenti sampai disitu, mereka akan bergerak menuju tingkat tertinggi, yaitu aktualisasi diri. Pada tahap ini maka seseorang akan berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya, mengembangkan potensi secara maksimal, mencari tantangan baru, dan melakukan pekerjaan demi kepuasan batin atau kreativitas, bukan lagi sekedar materi atau pujian. Dalam pembahasan ini, organisasi berperan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan psikologis ASN yang berdampak positif pada kinerja dan kepuasan kerja.

Saya ingin melihat dari perspektif Islam yang mana menekankan pentingnya hidup berkelompok dan bekerja sama dalam kebaikan. Allah SWT berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”(QS. Al-Ma’idah: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa kerja sama dalam organisasi harus dilandasi nilai kebajikan dan ketakwaan.

Selain itu, Allah juga berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”(QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini menunjukkan pentingnya persatuan dan kebersamaan, yang sejalan dengan semangat organisasi dan kerja kolektif.

Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya berjamaah dan hidup berkelompok. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Tangan Allah bersama Al Jama’ah (kelompok/jamaah).”(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa keberkahan dan pertolongan Allah lebih dekat kepada orang-orang yang bekerja secara kolektif dibandingkan individualisme yang berlebihan.

Rasulullah SAW juga mencontohkan kepemimpinan dan organisasi yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan dalam pelaksanaan ibadah seperti shalat berjamaah.

Jika dianalisis secara komprehensif, keaktifan ASN dalam organisasi memiliki keselarasan antara aspek psikologis dan nilai-nilai Islam. Teori Maslow menjelaskan bahwa organisasi memenuhi kebutuhan sosial dan aktualisasi diri, sementara Islam menegaskan bahwa hidup berjamaah adalah fitrah manusia dan sarana meraih kebaikan bersama.

Bagi ASN yang beragama Islam, keaktifan berorganisasi dapat diniatkan sebagai bentuk ibadah, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi kemaslahatan umat dan negara. Selama organisasi dijalankan dengan prinsip kejujuran, amanah, dan kerja sama dalam kebaikan, maka aktivitas tersebut memiliki nilai spiritual sekaligus profesional.