Tumpek Kandang Siwa Pasupati dan Etika Kosmis di tengah Keserakahan Manusia
  • Nimas Zanuba
  • 6 Februari 2026
  • 1162x Dilihat
  • Opini

Tumpek Kandang Siwa Pasupati dan Etika Kosmis di tengah Keserakahan Manusia

Om Swastyastu,

Eksistensi Tumpek Kandang (Tumpek Uye) menempati posisi krusial dalam konstelasi teologi Hindu Bali. Perayaan ini melampaui sekadar ritus bagi fauna, melainkan representasi teologis pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Siwa Pasupati Sang Penguasa sekaligus pelindung segenap makhluk hidup (sarwa prani). Melalui bingkai pemikiran tersebut, Tumpek Kandang menjadi sebuah artikulasi spiritual bahwa eksistensi manusia saling terkait secara moral dan ontologis dengan keberlangsungan seluruh entitas di jagat raya.

Hari suci yang diperingati setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye ini memuat dua dimensi fundamental. Pertama, dimensi niskala yang berfokus pada transendensi batin dari tendensi kebinatangan, kerakusan, dan egoisme yang menghambat aktualisasi Dharma. Kedua, dimensi sekala yang menuntut tanggung jawab konkret guna memelihara dan melestarikan kehidupan satwa beserta ekosistemnya. Dalam keseimbangan kedua dimensi ini, Tumpek Kandang menegaskan bahwa kesalehan ritual tidaklah bermakna tanpa tanggung jawab ekologis.

Sebagai sebuah sistem etika lingkungan yang holistik, Tumpek Kandang merupakan bagian integral dari siklus enam hari suci Tumpek yang jatuh setiap 210 hari (Sabtu Kliwon). Keenam siklus ini merupakan instrumen penjaga keseimbangan Tri Hita Karana yang mencakup seluruh aspek kehidupan:

  1. Tumpek Landep: Upacara penyucian benda tajam sebagai metafora penajaman karsa, intelegensia, dan kecerdasan moral manusia agar mampu membedakan yang benar (Dharma) dan yang salah (Adharma).
  2. Tumpek Wariga (Uduh/Bubuh): Bentuk penghormatan terhadap dunia flora sebagai pilar utama penyedia energi, oksigen, dan penyangga kehidupan biosfer secara makro.
  3. Tumpek Kuningan: Momentum permohonan perlindungan spiritual kepada para leluhur dan Sang Hyang Mahadewa guna memperkokoh benteng spiritualitas diri.
  4. Tumpek Krulut: Manifestasi kasih sayang universal yang diekspresikan melalui purifikasi perangkat seni (gamelan) sebagai simbol harmoni relasi antarmanusia melalui keindahan suara suci.
  5. Tumpek Kandang (Uye): Wujud syukur, welas asih, dan pengakuan spiritual atas hak-hak hidup dunia hewan sebagai sesama ciptaan yang terbebas dari penderitaan.
  6. Tumpek Wayang: Upacara penyucian sarana teater suci (wayang) sebagai penghormatan terhadap Sang Hyang Iswara dalam aspek kebijaksanaan, seni, dan pencerahan batin.

Rangkaian siklus ini menunjukkan bahwa teologi Hindu Bali memiliki kerangka kebijakan ekologis yang saintifik dan komprehensif. Namun, pada realitas kontemporer, terlihat diskrepansi tajam antara ritual dengan praksis di lapangan. Tumpek Kandang dirayakan secara masif, namun secara bersamaan terjadi degradasi lingkungan, alih fungsi lahan yang agresif, serta eksploitasi satwa yang intensif demi motif ekonomi. Di titik ini, nilai ritual tidak lagi diukur dari kemegahan sarana upacara, melainkan dari keberanian etis untuk mereduksi keserakahan manusia.

Akselerasi globalisasi yang mekanistik menempatkan relevansi Tumpek Kandang pada ujian eksistensial. Peradaban modern saat ini berada di era Antroposen, sebuah fase sejarah di mana dominasi manusia menjadi kekuatan geofisika yang mengubah iklim dan merusak biodiversitas global. Maka, Tumpek Kandang tidak boleh terjebak sebagai romantisme agraris masa lalu, melainkan harus diposisikan sebagai tesis kritis terhadap paradigma pembangunan global yang dekaden, yang sering kali mereduksi alam menjadi sekadar komoditas ekstraktif.

Landasan teologis Hindu menegaskan bahwa yajña (pengorbanan) adalah struktur dasar eksistensi manusia. Sejak awal penciptaan, manusia telah ditempatkan dalam relasi timbal balik dengan alam melalui prinsip pengorbanan dan pemeliharaan. Bhagavad Gītā III.10 menegaskan hal ini:

  •    saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā 
       purovāca prajāpatiḥ
  •    anena prasaviṣyadhvam
       eṣa vo’stviṣṭa-kāma-dhuk

          Terjemahan:

          “Setelah menciptakan manusia bersama yajña (korban suci), Prajāpati bersabda:
          ‘Dengan yajña ini engkau akan berkembang; yajña ini akan menjadi pemenuh segala keinginanmu.’

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan bersama yajña, bukan setelahnya. Artinya, pengorbanan, pengendalian diri, dan pemeliharaan kehidupan merupakan struktur dasar eksistensi manusia. Yajña menjadi fondasi keberlanjutan hidup bersama, bukan legitimasi pemuasan hasrat tanpa batas. Ketika prinsip yajña dipisahkan dari etika ekologis, ritual kehilangan daya transformatifnya dan agama berisiko tereduksi menjadi formalitas simbolik.

Tumpek Kandang sejatinya juga memuat kritik teologis terhadap antroposentrisme religius, yakni pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dan pemilik alam. Teologi Siwa Pasupati menolak logika tersebut. Siwa sebagai Pasupati menegaskan bahwa manusia bukan penguasa mutlak kehidupan, melainkan penjaga yang diberi amanah moral. Hewan dan alam bukan sekadar sarana pemenuhan kepentingan manusia, melainkan bagian dari tatanan kosmis yang memiliki nilai intrinsik.

Momentum hari suci ini harus menjadi katalis untuk melampaui batas simbolis doa. Penyelarasan nafas ritual diwujudkan melalui aksi nyata: penghentian eksploitasi berlebihan, proteksi habitat, dan perlakuan penuh welas asih terhadap setiap makhluk ciptaan Siwa Pasupati. Pengurbanan ego merupakan kunci utama bagi keberlanjutan masa depan jagat raya.

Makna terdalam Tumpek Kandang justru terletak pada daya korektifnya. Perayaan ini mengingatkan bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan makhluk lain dan lingkungan hidup. Ketika hewan dieksploitasi dan alam dirusak demi kepentingan sesaat, sesungguhnya fondasi spiritual dan ekologis kehidupan sedang diruntuhkan.

Dengan demikian, Tumpek Kandang merupakan cermin etika kosmik yang menuntut agar kesalehan ritual diwujudkan dalam pengendalian diri, welas asih terhadap sesama makhluk, dan tanggung jawab ekologis yang konsisten. Tanpa keberanian menundukkan keserakahan, ritual kehilangan rohnya, dan Dharma hanya tinggal nama.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan momentum hari suci ini untuk melampaui batas-batas banten dan doa semata. Sudah saatnya penyelarasan nafas ritual dilakukan dengan langkah nyata: penghentian eksploitasi berlebihan, penjagaan habitat yang tersisa, dan perlakuan penuh welas asih terhadap setiap makhluk sebagai sesama ciptaan Siwa Pasupati. Pengurbanan ego adalah kunci utama demi keberlanjutan jagat raya.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om
Matur Suksma.