PREP (Point, Reason, Example, Point)
Pernahkah Anda merasa gugup ketika harus berbicara di hadapan publik? Itu hal yang wajar. Berbicara di depan orang banyak memang bukan perkara mudah. Tidak ada rumus atau metode yang bisa sepenuhnya menghilangkan rasa gugup. Bahkan orang-orang yang sudah sering berbicara di berbagai forum pun kadang masih merasakan ketegangan yang sama. Rasa gugup adalah sesuatu yang sangat manusiawi, bagian dari pengalaman setiap pembicara, dan bukan tanda kelemahan atau ketidakmampuan.
Rasa gugup tidak selalu datang karena kita tidak siap. Kadang-kadang, rasa gugup justru muncul karena kita terlalu ingin menyampaikan banyak hal sekaligus. Ada dorongan untuk tidak melewatkan apa pun, untuk menjelaskan semuanya agar pesan dipahami sepenuhnya. Di saat yang sama, pikiran bergerak cepat dan kata-kata keluar tak beraturan. Kalimat belum selesai diucapkan, pikiran sudah melompat ke kalimat berikutnya.
Meski bersifat manusiawi, kegugupan semacam ini sering memecah konsentrasi, membuat pikiran berputar, dan mengganggu alur bicara. Saat seseorang mulai kehilangan fokus, kalimat yang ingin disampaikan bisa terpotong, melompat, atau keluar dari konteks awal. Audiens yang mendengarkan pun menjadi sulit mengikuti inti pembicaraan, karena perhatian pembicara terpecah antara menyampaikan ide dan mengendalikan ketegangan diri sendiri. Akibatnya, pesan yang seharusnya sampai secara jelas dan terstruktur sering kali menjadi kabur, dan tujuan komunikasi—baik untuk memberi informasi maupun meyakinkan—tidak tercapai.
Di situasi seperti itu, PREP—salah satu metode dalam komunikasi publik—dapat dijadikan pegangan. Metode ini sederhana dan fleksibel, sehingga dapat diterapkan oleh siapa pun, dari pembicara pemula hingga yang berpengalaman. PREP adalah akronim dari Point, Reason, Example, Point. Metode ini dirancang untuk membimbing alur komunikasi secara sistematis. Dengan struktur yang jelas, pembicara dapat mengatur informasi secara terukur, memetakan ide dari inti pesan hingga contoh konkret, dan menutupnya kembali dengan fokus yang sama. Struktur ini tidak menggantikan persiapan atau pemahaman materi, tetapi membantu menjaga pesan tetap terarah, bahkan ketika rasa gugup atau gangguan eksternal muncul.
Yang pertama adalah menetapkan Point, yaitu satu hal terpenting yang ingin disampaikan. Misal: “untuk menggerakkan moderasi beragama, kita membutuhkan ruang dialog yang terbuka.” Jadinya poinnya adalah ruang dialog terbuka. Penetapan satu poin utama ini untuk memastikan pembicaraan tidak melebar ke isu lain dan memberikan fokus yang jelas kepada audiens.
Tahap berikutnya adalah Reason, yaitu alasan mengapa poin tersebut penting. Contoh kalimat reason: “Ruang dialog yang terbuka penting karena dapat mencegah kesalahpahaman, mengurangi potensi konflik, dan menumbuhkan saling pengertian antar kelompok masyarakat.” Alasan ini membantu menjaga alur logika tetap konsisten dan audiens diajak memahami signifikansi ruang dialog terbuka itu.
Selanjutnya adalah Example, yakni contoh konkret yang relevan dengan poin dan alasan. Contoh kalimat: “Di beberapa komunitas, ada ruang budaya yang melibatkan anggota dari latar belakang berbeda, seperti tudang sipulung di Bugis, menyame braye di Bali. Keduanya bisa menjadi ruang yang terbuka untuk berdialog ” Contoh ini memberikan konteks yang konkrit dan dapat diterima oleh audiens dari berbagai latar belakang. Pemberian contoh tentu saja diawali dengan pemahaman tentang peta audiens.
Tahap terakhir adalah menegaskan kembali Point untuk menutup pembicaraan dengan arah yang jelas. Contoh kalimat: “Dengan membangun ruang dialog yang terbuka, kita tidak hanya mencegah potensi konflik, tetapi juga memperkuat budaya saling menghargai sebagai fondasi masyarakat yang harmonis.” Kembali ke point adalah upaya untuk memastikan inti gagasan tersampaikan dengan penekanan yang lebih kuat. Sehingga audiens bisa membawa pulang “sesuatu”.
Sebagai metode, PREP memang tidak menjamin kepercayaan diri akan muncul. Ia juga tidak bisa menghapus kegugupan yang hadir secara random. Pun, tidak otomatis anda terlihat hebat berbicara. Namun, PREP menawarkan peta bicara yang dapat berfungsi sebagai navigasi ketika kita mulai terjebak oleh kalimat-kalimat sendiri.
Gugup di depan publik tidaklah berarti anda akan gagal berbicara. Itu adalah tanda anda rendah hati. PREP bisa membantu kita di situasi ini. Ia bisa membantu kita tetap konsisten dan memiliki kendali, terutama ketika kata-kata yang keluar dari mulut kita sudah mulai berlari kemana-mana.
5 Juni 2020
26 Desember 2022