Tacit Knowledge
  • Admin
  • 19 Januari 2026
  • 187x Dilihat
  • Opini

Tacit Knowledge

Dalam film Closer (2004), Anna Cameron yang diperankan oleh Julia Roberts sedang melakukan sesi pemotretan. Di depannya ada seorang lelaki tua, botak. Di sekelilingnya berdiri beberapa perempuan muda yang secara visual lebih menarik. Anna memilih memotret lelaki tua itu. Kameranya tidak bergerak ke objek yang lebih mencolok. Ia tidak berdiskusi panjang. Ia langsung memilih.

Pimpinan dan kru lain memprotes pilihan itu dan menganggap Anna keliru. Namun Anna tidak bergeming. Ia tetap pada keputusannya. Hasilnya, foto yang diambil Anna justru menghasilkan iklan produksi yang kuat dan menarik.

Pilihan Anna terlihat spontan, tetapi bukan keputusan sembarangan. Ia lahir dari kejelian membaca konteks dan pengalaman yang panjang. Anna tahu apa yang ingin ia tangkap. Ia tidak perlu waktu lama untuk menimbang, karena pengetahuannya sudah bekerja lebih dulu. Intuisi membuat keputusannya cepat dan meyakinkan.

Inilah yang disebut tacit knowledge. Teori ini diperkenalkan oleh Michael Polanyi dengan quote yang terkenal, we know more than we can tell. Tacit knowledge adalah pengetahuan privat yang terbentuk dari pengalaman. Ia tidak selalu bisa dijelaskan, tetapi bisa digunakan secara efektif. Tacit knowledge memungkinkan seseorang melihat celah kecil yang tidak dilihat orang lain. Keputusan sering muncul secara spontan, tetapi tidak serampangan.

Tacit knowledge bisa bekerja dengan baik apabila ditopang oleh quiet confidence. Kepercayaan diri yang tenang ini membuat seseorang berani mengambil keputusan tanpa perlu banyak pembenaran. Dari sinilah muncul reaksi spontan yang kuat. Keputusan diambil cepat, tetapi tetap terarah, karena bertumpu pada pengalaman dan pemahaman konteks yang sudah matang.

Tacit knowledge tidak bekerja seperti pelampung dalam situasi darurat yang hanya dipakai saat dibutuhkan. Ia bekerja lebih dalam dan lebih awal. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang terbentuk dari proses mengalami situasi dan konteks secara terus-menerus. Ia tumbuh dari keterlibatan langsung, dari kegagalan dan keberhasilan yang berulang, serta dari keputusan-keputusan kecil yang diambil dalam situasi tertentu. Karena itu, tacit knowledge tidak muncul secara instan dan tidak bisa dipinjam. Ia melekat pada orang yang menjalaninya.

Orang-orang dengan tacit knowledge biasanya lebih peka dalam membaca situasi. Mereka mampu melihat gambaran besar, tetapi pada saat yang sama bisa mempersempit fokus pada detail yang sering diabaikan orang lain. Proses penyaringan terhadap situasi makro berjalan bersamaan dengan kemampuan untuk “zoom in” pada celah kecil yang tampak tidak penting. Di situlah uniknya tacit knowledge ini.

Dalam konteks organisasi, tacit knowledge hanya bisa bekerja melalui jejaring kepercayaan dan komunikasi. Pengalaman tidak akan bergerak jika tidak dipercaya, dan pengetahuan tidak akan mengalir jika tidak dikomunikasikan. Tanpa kepercayaan, pengalaman personal mudah dianggap sebagai opini. Tanpa komunikasi yang terbuka, tacit knowledge akan berhenti sebagai pengetahuan individual, bukan menjadi pembelajaran bersama.

Karena itu, organisasi perlu menyediakan ruang komunikasi yang memungkinkan pengalaman dibagikan secara setara. Bukan sekadar laporan formal, tetapi percakapan yang memberi tempat pada intuisi dan pembacaan situasi. Ketika kepercayaan terbangun dan komunikasi berjalan dengan baik, tacit knowledge bisa menjadi sumber kekuatan kolektif organisasi.