Lead By Heart: Kepemimpinan yang Menyentuh Hati dan Emosi
  • Cucu Ardiah Ningrum
  • 7 Februari 2026
  • 53x Dilihat
  • Opini

Lead By Heart: Kepemimpinan yang Menyentuh Hati dan Emosi

Terimakasih untuk Bapak Kepala Balai dan teman-teman yang telah meluangkan waktunya 2 hari pulang pergi Badung-Singaraja dengan kondisi jalan yang tidak biasa. Hal sederhana yang kami rasakan adalah kami dicintai dan didukung penuh oleh keluarga besar Balai Diklat Keagamaan Denpasar. Betul seperti kata Bapak, menyelesaikan studi sambil tetap bekerja bukanlah perkara ringan. Kalau teman-teman ingat iklan Chitato dengan jargonnya Life is Never Flat, begitulah kurang lebih rasanya di saat kami harus tetap komit pada kantor dan pada studi kami. Energi dan pikiran yang dibutuhkan begitu besar dan luar biasa, tapi kami pun harus tetap menjaga kewarasan kami. Seperti yang disebut di iklan You C 1000, Healthy Inside Fresh Outside, harus tetap sehat lahir batin.

Kehadiran Bapak di tengah-tengah kami adalah bentuk perhatian bahwa Bapak betul-betul ‘ada’ diantara kami. Tidak hanya selesai urusan memberikan izin, tapi hadir bahkan di 2 hari tersebut. Kalau boleh saya berpendapat, Bapak sudah memberikan individual consideration atau perhatian sepenuh hati. Konsep kepemimpinan tidak akan pernah jauh dari yang namanya memperhatikan aspek people. Bersinergi tanpa tersekat-sekat dan berada di tengah selama proses adalah consistency in behavior seorang leader.

Belajar dari pengalaman kepemimpinan Michael D. Ruslim yang berhasil memajukan Astra menghadapi krisis global di tahun 2009, ada istilah menarik yang muncul yakni Lead by Heart. Ada dua ciri yang menonjol yang saya ingat dalam kepemimpinan tersebut yaitu membangun komunikasi yang not just hear but listen dan doing things right dan doing the right things. Komunikasi yang not just hear but listen adalah komunikasi yang sejajar, bebas berpendapat dengan prinsip tidak ada unsur merendahkan sehingga lahir lah undertanding kemudian trust, respect dan bermuara pada commitment bawahan. Kalau pun ada segelintir bawahan yang kurang berkomitmen, minimal mereka paham ‘mengapa harus melakukan pekerjaannya’. Pemimpin idealnya dapat mengomunikasikan apa yang menjadi visinya agar membangun kesadaran dan logika para bawahan memaknai konsekuensi dari sebuah tanggung jawab. Pemimpin seyogianya mengapresiasi dan memberikan solusi di tengah kendala yang muncul untuk menjaga komitmen bawahan agar tetap selaras bersinergi mendukung organisasi.

Dan kalau boleh kami berpendapat lagi, sudah ada indikasi-indikasi yang Bapak tunjukkan ke arah sana, mulai dari mensosialisasikan 8 Astra sebagai program Balai Diklat Keagamaan Denpasar ke depan. Bapak menengahi kami di ruang-ruang diskusi Widyaiswara maupun seluruh pegawai, memberikan insight dan reason dengan pijakan kajian yang begitu ilmiah sehingga betul-betul menggugah pemikiran kami ‘oh iya betul kata Bapak’. Disitulah ruang transaksi pengetahuan yang sesungguhnya mulai Bapak budayakan di Balai Diklat Keagamaan Denpasar dengan communication sebagai core of leadership.         

Hal kedua yang menarik dari Lead by Heart adalah doing things right dan doing the right things. Melakukan sesuatu dengan cara yang benar dan melakukan sesuatu yang benar oleh seorang pemimpin adalah bentuk keteladanan yang akan membimbing bawahan agar komit sesuai bidang tugasnya. Pemimpin idealnya know how harus bersikap dan memutuskan, menerapkan prioritas dan merespons kondisi yang ada, mendorong bawahan untuk terus meningkatkan kapasitas, dimulai dari hal kecil tapi efektif dan konsisten disertai integritas.

Pada prinsipnya melalui tulisan ini kami ucapkan terimakasih. Harapan yang terbersit di hati, cukup kami selipkan dalam doa, semoga Kepala Balai kami menjalankan kepemimpinannya dengan Lead by Heart. Cinta adalah kekuatan terbesar manusia, A Reason for Being. Semoga ikatan rasa dan kekeluargaan seluruh pegawai tetap harmonis, bekerja dengan cinta untuk kebahagian lahir batin.