Ekoteologi dalam Spirit Tumpek Uye dan Motivasi Zig Ziglar
  • Nimas Zanuba
  • 7 Februari 2026
  • 35x Dilihat
  • Opini

Ekoteologi dalam Spirit Tumpek Uye dan Motivasi Zig Ziglar

Fenomena keterputusan relasi antara manusia, Tuhan, dan ciptaan-Nya dapat dilihat dari indikator krisis lingkungan global berupa perubahan iklim ekstrim, tanah longsor, banjir, pencemaran air, masalah sampah, limbah, dan masalah lingkungan lainnya. Hal ini merupakan refleksi dari krisis spiritual manusia modern dimana alam yang merupakan sahabat kehidupan justru direduksi menjadi obyek eksploitasi. Di zaman dahulu manusia dengan intuisinya bisa berdialog, bercakap-cakap dengan alam semesta bagalikan seorang sahabat. Relasi manusia dengan alam, relasi manusia dengan Tuhan, dan relasi sesama manusia merupakan satu paket, dalam hal ini merawat lingkungan merupakan bagian dari ibadah sementara merusaknya merupakan bentuk pengingkaran terhadap ryta (hukum kebenaran dan keteraturan kosmis) dan dhrma (sesuatu yang menopang keteraturan hidup).

Akar permasalahan terletak pada paradigma manusia yang memisahkan dirinya dari alam. Manusia memposisikan diri sebagai penguasa mutlak, bukan sebagai penjaga kehidupan. Dalam perspektif keagamaan, alam dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki nilai sakral, setiap unsur kehidupan mengandung makna spiritual. Hal ini terdapat dalam Atharvaveda XII.1.12 yang berisikan tentang Bumi sebagai Ibu dan Manusia sebagai Penjaga. Oleh karena itu, manusia diberi amanah sebagai khalifah, atau pelayan bumi. Amanah ini menuntut tanggung jawab moral dan spiritual. Dalam perspektif ekoteologi mengajarkan bahwa relasi ekologis bersifat teosentris, bukan antroposentris. Alam bukan diciptakan semata-mata untuk kepentingan manusia, melainkan sebagai bagian dari sistem kehendak Ilahi. Dengan demikian, menjaga keseimbangan lingkungan merupakan wujud nyata ketakwaan. Hal ini terdapat dalam Yajurveda 36.17  yang berisikan tentang Harmoni Manusia dan Alam.

Tumpek Uye merupakan upacara dalam tradisi Hindu Bali yang dilaksanakan setiap 210 hari yaitu Saniscara Keliwon berdasarkan kalender pawukon. Upacara ini didedikasikan kepada Sang Hyang Pasupati, manifestasi Tuhan sebagai pelindung hewan. Pada hari Tumpek Uye, yang saat ini jatuh pada 7 Februari 2026, masyarakat memberikan sesaji, doa, dan perhatian khusus kepada hewan peliharaan. Tindakan ini bukan sekadar ritual simbolik, tetapi memiliki makna filosofis yang mendalam. Manusia diajak untuk menyadari bahwa hewan bukan sekadar alat produksi atau objek ekonomi, melainkan makhluk hidup ciptaan Tuhan yang memiliki hak untuk dihormati.

Secara teologis, Tumpek Uye merepresentasikan prinsip keharmonisan kosmis. Tradisi ini memperkuat konsep Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Dalam perspektif ekoteologi, Tumpek Uye merupakan bentuk konkret spiritualitas ekologis. Ritual ini membentuk kesadaran kolektif bahwa menjaga makhluk hidup adalah bagian dari pengabdian kepada Tuhan. Lebih dari itu, Tumpek Uye juga berfungsi sebagai media pendidikan karakter lintas generasi. Nilai kesadaran, kasih sayang, empati, dan tanggung jawab diwariskan secara kultural melalui praktik keagamaan.

Zig Ziglar, seorang tokoh motivasi yang menekankan bahwa kesuksesan sejati dibangun di atas fondasi karakter. Jika prinsip ini diterapkan dalam konteks lingkungan, maka setiap individu memiliki tanggung jawab personal terhadap kelestarian alam. Kerusakan lingkungan bukan semata-mata kesalahan institusi, tetapi juga akumulasi dari sikap perilaku individu. Integrasi ketiga perspektif ini membentuk paradigma spiritual-ekologis yang utuh.

Ekoteologi menyediakan landasan teologis, Tumpek Uye menghadirkan dimensi kultural-praktis, sementara Zig Ziglar memperkuat aspek psikologis dan karakter personal. Ketiganya bertemu dalam satu titik: tanggung jawab moral manusia terhadap kehidupan. Ekoteologi menjawab pertanyaan “mengapa” menjaga alam. Tumpek Uye menunjukkan “bagaimana” menjaga alam dalam tradisi keagamaan.
Zig Ziglar menguatkan “siapa” yang harus bertanggung jawab: individu berkarakter.