Hadiri Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya, Menag Dorong Ekoteologi dan Kurikulum Cinta
Denpasar (Kemenag) — Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar menghadiri Puncak Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya yang diselenggarakan di Auditorium Taman Asoka, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, dengan diikuti sekitar 800 peserta (12/02).
Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha. Dalam sambutannya, Kakanwil menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi diri dan penguatan komitmen bersama dalam menjaga kelestarian alam dan memperkuat nilai-nilai pendidikan berbasis kearifan lokal.
Puncak Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya merupakan kegiatan peringatan yang menegaskan kembali pentingnya peran pendidikan, nilai keagamaan, dan kearifan lokal dalam membangun kesadaran merawat alam semesta.
Dalam arahannya, Menteri Agama menegaskan bahwa manusia tidak mungkin menjalankan perannya sebagai hamba Tuhan maupun khalifah di bumi apabila lingkungan mengalami kerusakan. Menag menyampaikan bahwa kerusakan alam akan berdampak langsung pada rusaknya manusia, baik dari aspek kesehatan, sosial, maupun keberlanjutan kehidupan.
Menag mengapresiasi konsep kearifan leluhur yang menekankan hubungan harmonis antara Tuhan, sesama manusia, dan alam, sebagaimana tercermin dalam filosofi Tri Hita Karana, yakni Parhayangan, Pawongan, dan Palemahan. Namun demikian, Menag menilai aktualisasi Tri Hita Karana saat ini mengalami degradasi sehingga perlu dikembalikan agar benar-benar hidup dan menyertai masyarakat.
Menag juga menyoroti tantangan pendidikan modern yang dinilai terlalu mengandalkan aspek rasionalitas dan teknologi, sementara dimensi intuisi, perasaan, dan persahabatan dengan alam cenderung terabaikan. Menurutnya, tradisi lokal Nusantara sesungguhnya menunjukkan kearifan dalam membaca tanda-tanda alam, salah satunya ditunjukkan oleh masyarakat Mandar di Sulawesi.
Dalam kesempatan itu, Menag mengingatkan bahaya desakralisasi alam, yakni ketika alam dipandang semata-mata sebagai objek ekonomi. Menag menyebut, pohon kerap diperlakukan sebagai nilai uang dan pantai dianggap sebagai komoditas kavling. Cara pandang tersebut, menurutnya, mempercepat kerusakan lingkungan dan memicu bencana ekologis seperti banjir dan longsor.
Menag kemudian menekankan pentingnya pendekatan ekoteologi, yaitu kesadaran menjaga alam melalui bahasa agama. Menurut Menag, bahasa agama sering kali lebih efektif daripada hukum atau birokrasi dalam membangun kesadaran kolektif. Ia mencontohkan pernyataan Paus di Vatikan yang menegaskan bahwa agama mampu mencegah perusakan alam.
Menag juga menyerukan perlunya resakralisasi alam, yakni memandang pohon, laut, rawa, dan seluruh alam sebagai partner kehidupan, bukan sekadar objek eksploitasi. Ia menegaskan bahwa pendidikan perlu memasukkan kurikulum cinta dan persahabatan dengan alam.
Sejalan dengan itu, Menag menyampaikan bahwa Kementerian Agama tengah mengembangkan kurikulum cinta, agar nilai kasih hadir dalam seluruh mata pelajaran. Menag menegaskan bahwa inti semua agama adalah cinta, bukan kebencian. Ia menyampaikan bahwa penelitian menunjukkan cinta dapat menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, dengan contoh sederhana bahwa tanaman yang dirawat dengan cinta akan tumbuh lebih indah.
Menag juga mengingatkan pentingnya pendidikan anak yang manusiawi. Menurutnya, anak tidak boleh kehilangan masa kanak-kanaknya karena beban yang berlebihan.
“Anak memerlukan ruang bermain, rekreasi, serta kasih sayang intensif dari orang tua agar tumbuh sehat dan seimbang. Nah, pendidikan widyalaya ini sangat kita perlukan dalam era seperti sekarang ini” ujarnya
Di akhir arahannya, Menag berharap pendidikan Widyalaya dapat menjadi konsep yang lebih luas dan menginspirasi dunia dalam menyelamatkan alam. Generasi muda harus dibentuk agar lebih peka dan sayang terhadap alam semesta. Menag juga mengajak memperluas makna Tat Twam Asi, tidak hanya dalam relasi antarmanusia, tetapi juga mencakup tumbuhan dan hewan sebagai bagian dari diri manusia.
5 Juni 2020
26 Desember 2022