Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS
  • Admin
  • 26 Januari 2026
  • 267x Dilihat
  • Opini

Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS

Terus terang, saya tidak pernah menaruh ekspektasi apa pun pada BTS selain sebagai band pop yang rapi dan menyenangkan. Dalam bayangan saya, K-Pop—termasuk BTS—adalah industri yang sangat efisien menjual visual, koreografi, dan kemasan. Musiknya menghibur, energik, dan selesai di situ. Pure entertainment. Tidak lebih.

Pandangan saya mulai terkoreksi ketika, dalam satu diskusi tentang masa depan NU di Makassar dan di kelas pemikiran Gusdur (KPG), Mbak Alissa Wahid—Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian sekaligus mentor saya—menyebut BTS dengan cara yang berbeda. Ia menyebutkan bahwa lirik-lirik BTS bukan sekadar manis, melainkan menyimpan bahasa perlawanan.

Rasa penasaran itu mendorong saya membuka mesin pencari dan berjumpa dengan lagu Bapsae. Dari situ muncul kejutan kecil yang menyenangkan. Di balik wajah-wajah sempurna dan koreografi yang nyaris tanpa celah, ternyata tersimpan kegelisahan sosial yang tajam, jujur, dan terasa dekat dengan pengalaman banyak generasi muda hari ini.

Melalui lagu Bapsae, BTS bercerita tentang dua generasi: bapsae, burung kecil dengan segala keterbatasannya, dan hwangsae, burung besar yang lebih dulu menikmati medan hidup yang lapang. Metafora ini diambil dari peribahasa Korea: burung pipit yang memaksakan diri berjalan seperti bangau hanya akan melukai kakinya sendiri. Sederhana, tapi menghantam. Bapsae dituntut terbang setinggi hwangsae, berlari secepat mereka, dan sukses dengan ukuran yang sama—tanpa pernah benar-benar dibekali alat yang setara.

Di sinilah kritiknya bekerja. Bapsae tidak sedang menyindir kemalasan generasi muda, justru sebaliknya. Lagu ini mengejek logika yang terlalu mudah menyalahkan individu. Kerja keras dijadikan mantra moral, seolah semua orang memulai dari titik yang sama. Padahal medan hidup sudah berubah. Ketika bapsae gagal, yang dipersoalkan bukan sistemnya, melainkan mentalnya. Kurang tahan banting, kurang sabar, kurang bersyukur.

Beberapa potongan lirik Bapsae terasa seperti gumaman yang akrab di telinga banyak anak muda: kelelahan karena terus dibandingkan, dinasihati, dan dituntut, tapi jarang didengarkan. Nada lagunya memang enerjik, hampir seperti pesta, tapi liriknya sinis dan sadar kelas. BTS seolah sedang berkata: kami tidak menolak kerja keras, tapi jangan pura-pura buta pada ketimpangan.

Yang membuat lagu ini menarik justru caranya menyampaikan kritik. Tidak menggurui. Tidak juga terasa seperti manifesto politik. Bapsae lebih mirip curhat kolektif—tentang rasa capek yang sering tidak punya bahasa. Dan karena dibungkus sebagai lagu pop, kritik itu terasa ringan, mudah diterima, bahkan nyaris lolos dari radar mereka yang menganggap budaya pop tidak pernah serius.

Jika ditarik ke konteks kita, Bapsae terasa akrab. Banyak generasi muda hari ini hidup di bawah tekanan yang serupa: biaya hidup yang terus naik, persaingan yang kian ketat, sementara standar sukses tetap tinggi dan jarang ditinjau ulang. Nasihat lama diwariskan dari generasi ke generasi, seolah medan hidup tidak pernah berubah.

Lagu ini juga berbicara kepada kita, generasi hwangsae. Kita harus menyadari bahwa struktur yang dibentuk di masa lalu mungkin tidak lagi cocok untuk mereka yang sedang tumbuh hari ini. Mengakui ketimpangan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah sadar untuk memahami pengalaman generasi baru dan membuka ruang agar proses mereka tidak terus-menerus terbentur pada standar lama.

Refleksi semacam ini juga memberi kesempatan untuk membangun jembatan, bukan sekadar mengulang aturan lama. Generasi Hwangsae bisa memilih untuk mendengar, menyesuaikan ritme, dan menyadari  untuk menciptakan sistem yang memberi ruang bagi mereka yang masih belajar seperti burung kecil bapsae.