Metode Socrates dalam Kurikulum Berbasis Cinta: Melahirkan Pengetahuan Lewat Dialog yang Mengasihi
Pendidikan di Indonesia terus mengalami reformasi, kita mengenal Kurikulum Merdeka dengan pendekatan Pembelajaran Mendalamnya hingga munculnya Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menempatkan cinta sebagai fondasi seluruh proses pendidikan. Keduanya bertujuan untuk membebaskan murid dari metode pengajaran tradisional yang kaku, menuju pembelajaran yang memberikan ruang pengembangan diri, kreativitas, dan berpikir kritis. Namun, di tengah semangat reformasi ini, dua pertanyaan mendasar layak diajukan: Apakah murid benar-benar belajar atau sekadar menghafal? Apakah guru benar-benar mendidik dengan cinta, atau sekadar mengajar dengan koreksi? Dalam KBC menegaskan bahwa koneksi harus mendahului koreksi, tanpa kedekatan hati, nasihat dan bimbingan tidak akan meresap dalam jiwa murid. Sayangnya, dalam ruang kelas yang didominasi oleh jawaban tunggal dan penilaian berbasis angka, kemampuan bertanya dan membangun koneksi melalui dialog justru sering terpinggirkan. Padahal, jika kita menoleh ke belakang, tradisi bertanya dan berdialog justru telah lama menjadi jantung pendidikan yang sejati.
Dalam sejarah filsafat, bertanya adalah awal dari segala pengetahuan, dan bertanya dengan cinta adalah awal dari kebijaksanaan. Socrates, seorang filsuf Yunani kuno yang terkenal dengan pernyataannya, "Semakin aku belajar, semakin aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa," memberikan pandangan mendalam tentang hakikat pengetahuan. Socrates tidak mengajar dengan ceramah atau hukuman, melainkan dengan ironi dan maieutika, dua metode yang mengajak lawan bicara untuk menyadari ketidaktahuannya dan melahirkan pemahaman dari dalam dirinya sendiri. Bagi Socrates, guru bukanlah pemberi jawaban atau hakim yang menghukum kesalahan, melainkan penuntun kelahiran ide, bidan pengetahuan yang merawat dengan cinta. Ini sejalan dengan mindset KBC dimana guru bukan tukang kayu yang membentuk, melainkan petani yang merawat benih potensi dalam diri setiap murid.
Ketika KBC menawarkan ruang bagi pembelajaran yang lebih reflektif, personal, dan penuh kasih, metode Socrates menemukan relevansinya kembali. Pendidikan yang membebaskan dan mengasihi bukan sekadar slogan, melainkan panggilan untuk menghidupkan kembali seni bertanya, berdialog, dan mencintai dalam proses pencarian kebenaran di ruang kelas Indonesia.
Mengenal Metode Socrates: Dialog yang Lahir dari Cinta pada Kebenaran
Bagi Socrates, kehidupan yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani oleh manusia. Satu hal yang selalu ia lakukan saat bertemu orang lain adalah bertanya, bukan untuk menghakimi atau mempermalukan, tetapi untuk mengajak lawan bicaranya menemukan kebenaran bersama-sama. Dalam terminologi KBC, Socrates tidak melakukan judging (menghakimi), melainkan observing (mengamati) dengan penuh empati dan keingintahuan yang tulus.
Socrates menggunakan metode DIALOG (DIA-LOGOS). DIA artinya melintasi atau menyeberangi, dan LOGOS berarti kata atau nalar. Dialog bukan sekadar percakapan biasa, melainkan perjalanan bersama melintasi pikiran dan jiwa untuk menemukan kebenaran. Dialog harus menelanjangi jiwa dan mengajak berefleksi agar orang menjadi sadar akan hidupnya. Inilah yang dikenal dengan Metode Socrates atau Metode Dialektika (Metode Kebidanan).
Metode ini sejalan dengan mindset KBC Hushuli → Hudhuri. Dimana Pengetahuan tidak lagi sekadar representasi dari realitas (hushuli belajar dari buku atau ceramah), tetapi menjadi pengalaman kehadiran langsung (hudhuri belajar dengan merasakan dan menyatu dengan pengalaman itu sendiri). Dialog Socrates memaksa murid untuk tidak hanya mengetahui suatu konsep, tetapi mengalami proses penemuan kebenaran itu sendiri.
Socrates melalui metode dialektisnya percaya bahwa pendidikan adalah proses "melahirkan" pengetahuan yang sudah ada dalam diri individu. Socrates menjalani filosofinya dalam mode pecinta, bukan mode budak atau pedagang. Ia tidak mencari kebenaran karena takut dihukum oleh masyarakat (mode budak), atau karena ingin mendapat imbalan materi atau penghormatan (mode pedagang). Socrates mencari kebenaran karena cinta pada kebenaran itu sendiri. Ia bahkan rela menerima hukuman mati daripada mengkhianati prinsip filosofisnya. Seperti yang diajarkan KBC, seorang pecinta taat bukan karena takut atau berharap imbalan, melainkan karena cinta yang tulus.
Dua Pilar Metode Socretes: Ironi dan Maieutika
Puncak atau tujuan akhir dari metode dialektikanya Socrates adalah edukasi dan etika. Edukasi mengajarkan bagaimana seseorang bisa mengambil pengetahuan dari setiap kejadian yang dialaminya. Etika mengajarkan bagaimana seseorang seharusnya bersikap atau menyikapi kejadian tersebut. Ini sejalan dengan mindset KBC Knowledge → Wisdom. Bukan hanya tahu (knowledge), tetapi mampu menggunakan pengetahuan itu dengan bijaksana untuk hidup yang bermakna (wisdom).
Metode dialektikanya Socrates, yakni ironi dan maieutika, merupakan unsur fundamental dalam pendidikan yang memberi pengaruh besar terhadap proses pembelajaran:
1. Ironi: Mengamati Tanpa Menghakimi
Ironi berarti pura-pura tidak mengetahui apa-apa. Socrates ketika berdialog berpura-pura tidak mengetahui apapun agar lawan bicaranya bisa leluasa mengeluarkan seluruh isi pikirannya tanpa canggung, tanpa ragu, tanpa takut dihakimi.
Dalam perspektif KBC, ironi Socrates adalah manifestasi dari mindset Observing bukan Judging. Alih-alih langsung mengoreksi dengan mengatakan "kamu salah" atau "kamu tidak tahu apa-apa," Socrates mengamati dengan penuh perhatian dan berkata, "Aku ingin belajar darimu, ceritakan padaku apa yang kamu pikirkan." Hal ini membuka ruang dialog, empati, dan pemahaman, sehingga lawan bicara merasa dilihat sebagai manusia yang dihargai, bukan sekadar objek yang salah.
Ironi juga mencerminkan self-compassion yang sehat. Socrates dengan rendah hati mengakui ketidaktahuannya "aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa", tanpa jatuh ke dalam self-pity (merasa kasihan pada diri sendiri) atau narsisme (merasa diri paling pintar). Ia mencintai diri dengan cara yang sehat: menyadari kekurangan tanpa merendahkan diri, dan mengakui pencarian kebenaran sebagai perjalanan yang tak pernah selesai.
2. Maieutika: Guru sebagai Bidan Pengetahuan yang Merawat
Maieutika dalam bahasa Yunani artinya bidan. Setelah Socrates menunjukkan titik lemah dari argumen lawan melalui pertanyaan-pertanyaan kritis, ia kemudian menuntun lawan bicaranya untuk melahirkan pengetahuan yang sebenarnya. Ia membantu orang lain mengenali sendiri apa yang nyata, benar, dan baik untuk dirinya sendiri.
Konsep maieutika sangat selaras dengan mindset KBC: Tukang Kayu yang Membentuk → Petani yang Merawat. Guru bukan tukang kayu yang memaksa kayu menjadi bentuk tertentu sesuai keinginannya. Guru adalah petani yang merawat benih, setiap benih (murid) sudah punya potensi bawaan yang khas. Tugas guru adalah menyiram, merawat, dan menjaga lingkungan agar benih tumbuh sesuai kodratnya.
Maieutika juga mencerminkan Koneksi sebelum Koreksi. Socrates tidak langsung menunjukkan kesalahan lawan bicaranya dengan cara yang merendahkan. Ia terlebih dahulu membangun koneksi melalui dialog yang tulus, sehingga ketika koreksi datang, itu lahir dari ruang kepercayaan dan kasih sayang, bukan hukuman. Dengan koneksi, murid lebih terbuka menerima nasihat karena merasa dihargai.
Pendidikan yang Membebaskan, Dialog yang Mengasihi
Metode Socrates bukanlah warisan kuno yang usang, melainkan lentera yang tetap menyala di tengah arus pendidikan modern. Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, ia menemukan ruang baru untuk bernafas menghidupkan dialog, menyemai refleksi, dan membebaskan pikiran dari belenggu hafalan.
Ketika guru berani bertanya dengan cinta, bukan memberi jawaban dengan hukuman; ketika murid diajak berpikir dengan kasih sayang, bukan sekadar menghafal dengan tekanan; dan ketika ruang kelas menjadi forum pencarian makna yang penuh empati maka pendidikan benar-benar menjadi proses pembebasan dan pengasihan. Di sinilah Socrates dan KBC bertemu: dalam semangat untuk melahirkan manusia yang berpikir dengan jernih, merdeka dengan bermartabat, dan mengasihi dengan tulus. Tugas pendidikan sejati adalah membantu manusia menjadi dirinya sendiri dengan cara yang bijak, merdeka, dan penuh makna tidak melalui paksaan atau hukuman, tetapi melalui cinta, dialog, dan pertanyaan yang merawat.
Dialog Socrates mengajarkan bahwa pencarian kebenaran adalah perjalanan cinta, bukan kompetisi intelektual. KBC menegaskan bahwa pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang mengasihi, bukan yang menghakimi. Keduanya bersama-sama menawarkan jalan keluar dari pendidikan yang mematikan kreativitas dan kemanusiaan.
Seperti kata Socrates, "Pendidikan adalah menyalakan api, bukan mengisi bejana." Dan KBC menambahkan: api itu adalah cinta pada pengetahuan, cinta pada sesama, cinta pada kebenaran, dan cinta pada kehidupan itu sendiri. Karena hanya dengan cinta, api pengetahuan akan terus menyala, menghangatkan jiwa, dan menerangi jalan menuju kebijaksanaan. Mari kita hidupkan kembali seni bertanya dengan kasih sayang, berdialog dengan empati, dan mencari kebenaran dengan cinta demi masa depan pendidikan Indonesia yang benar-benar merdeka, bermakna, dan mengasihi.
5 Juni 2020
26 Desember 2022