Kolaborasi, Komitmen, dan Kepercayaan
Oleh : Saprillah (Kepala BDK Denpasar)
Keberhasilan kerja organisasi tumbuh dari kerja kolektif yang tertata, bukan kerja segelintir orang, apalagi satu individu saja. Proses kerja selalu melibatkan banyak peran yang berada di ruang kerja yang berbeda. Setiap elemen punya posisi dan kontribusinya sendiri. Berbeda tetapi saling menopang. Kerja menjadi lebih efektif ketika setiap peran dijalankan secara proporsional dan tidak saling tumpang tindih.
Semua unit memiliki posisi yang penting sekaligus keterbatasan. Tidak ada unit yang sepenuhnya lengkap, dan tidak ada pula yang bisa bekerja sendirian. Setiap unit menjadi spesial karena bekerja pada ruang dan fungsinya sendiri, dengan kontribusi yang khas dan tidak saling menggantikan.
Kesadaran atas batas peran inilah yang menjadi pijakan kolaborasi. Dalam kerja organisasi, tidak ada satu kapasitas atau satu unit yang dapat menjadi penopang tunggal. Setiap bagian memiliki peran dan kekuatan yang berbeda, yang bekerja sesuai dengan fungsi dan ruangnya masing-masing.
Kolaborasi tumbuh ketika perbedaan tersebut dipertemukan secara terbuka. Fungsi yang jelas membantu kerja berjalan lebih rapi, sementara keterbukaan antarperan menjaga agar proses tidak tersendat oleh sekat-sekat internal. Di atas itu semua, kemauan untuk bergerak dalam satu arah yang sama menjadi pengikat agar kerja kolektif tetap terjaga dan berkelanjutan.
Kolaborasi akan berjalan baik apabila ditopang oleh komitmen kuat. Komitmen berperan menjaga ritme kerja agar organisasi tetap bergerak secara terarah. Dalam keseharian organisasi, perubahan kebijakan, penyesuaian target, dan dinamika internal kerap muncul silih berganti. Kondisi ini menuntut sikap yang stabil agar kerja tidak mudah terseret oleh perubahan situasi yang datang tiba-tiba.
Di ruang itulah komitmen bekerja. Ia tampak dari konsistensi menjalankan tugas meski konteks berubah, dari kesanggupan menepati kesepakatan yang telah dibangun bersama, dan dari kesediaan memikul tanggung jawab atas kerja kolektif. Melalui komitmen, proses tetap terjaga dan arah kerja tidak kehilangan pijakan.
Komitmen bisa tumbuh apabila ditopang rasa percaya satu sama lain. Dalam kerja organisasi, kepercayaan memberi ruang bagi orang untuk bertahan dalam proses, bahkan ketika situasi tidak selalu ideal. Tanpa kepercayaan, komitmen mudah melemah dan kehilangan daya dorong dalam praktik keseharian.
Kepercayaan adalah barang mewah yang tumbuh dari pengalaman bekerja berulang kali, dari tugas yang dituntaskan dengan baik, dan dari pelimpahan tanggung jawab yang berjalan lancar. Ia tidak dibentuk melalui pernyataan, melainkan melalui konsistensi dan tanggung jawab yang dijalankan bersama. Kepercayaan membuat koordinasi terasa lebih ringan, komunikasi lebih terbuka, dan suasana kerja lebih sehat.
Keberhasilan, dalam kerangka ini, dipahami sebagai kondisi yang membuat kerja dapat terus berjalan. Kolaborasi menjaga keterhubungan peran, komitmen menahan arah agar tidak mudah bergeser, dan kepercayaan memberi daya hidup pada keseluruhan sistem kerja.
Namun kondisi tersebut tidak pernah terbentuk secara otomatis. Kerja kolektif harus dijaga dengan kesadaran penuh: ruang kerja yang jelas, peran yang dihormati, dan relasi yang dirawat secara konsisten. Tanpa itu, keberhasilan mudah menyusut menjadi capaian sementara, kehilangan maknanya sebagai proses yang berkelanjutan.
5 Juni 2020
26 Desember 2022