Khusyu’: Sinergi Olah Raga, Olah Rasio, dan Olah Rasa
  • Admin
  • 23 Januari 2026
  • 31x Dilihat
  • Opini

Khusyu’: Sinergi Olah Raga, Olah Rasio, dan Olah Rasa

"Ada sajadah panjang terbentang, dari kaki buai sampai ke tepi kuburan hamba..." Sepenggal lirik lagu legendaris dari Bimbo karya Taufiq Ismail ini mengingatkan kita bahwa hidup pada hakikatnya adalah perjalanan sujud yang tak terputus. Namun, untuk benar-benar bisa mencapai derajat "tunduk dan khusyu'", diperlukan kesiapan diri. Kesiapan yang paling mendasar adalah harmoni fisik. Harmoni fisik ini dapat dicapai dengan baik jika kita secara konsisten menjaga kebugaran tubuh, salah satunya melalui kegiatan olah raga.

Dalam perspektif psikologi agama, kesehatan fisik berkaitan erat dengan kontrol psikomotorik, yaitu kemampuan mengatur gerak tubuh agar tetap tenang (tuma'ninah). Sebagaimana pesan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, ketenangan lahiriah adalah pintu pertama menuju Tuhan; tanpa raga yang tertata dan bugar, sistem saraf kita akan sulit memasuki fase relaksasi yang diperlukan untuk mencapai kedalaman spiritual.

Namun, raga yang tenang hanyalah wadah. Diperlukan olah rasio yang berperan sebagai penjaga kesadaran penuh (mindfulness). Secara kognitif, rasio bertugas menjaga fokus agar pikiran tidak melantur (mind-wandering) dengan cara meresapi makna setiap firman yang dibaca. Prof. Komaruddin Hidayat menekankan bahwa khusyu’ lahir dari pemahaman (tafahhum). Dengan olah rasio, shalat menjadi dialog intelektual yang hidup antara hamba dan Pencipta. Setiap rakaat shalat yang terasa singkat seringkali diuji oleh hiruk-pikuk "dunia yang fana" yang segera memanggil kita kembali. Di sinilah pentingnya memastikan bahwa nilai-nilai ketuhanan tetap membekas dalam setiap tarikan napas kehidupan.

Puncaknya, lirik "Hamba pun tunduk dan pasrah" adalah muara dari olah rasa atau kehadiran hati yang total (hadhirul qalb). Membiasakan harmoni ini dalam keseharian berarti mengubah teori spiritual menjadi karakter nyata. Implikasinya, khusyu’ tidak lagi berhenti di atas sajadah kain, melainkan menjelma menjadi kesalehan perilaku: olah raga membuahkan kedisiplinan raga serta ketertiban dalam menjalani ritme kehidupan; olah rasio tampak pada kejernihan pikiran; dan olah rasa hadir melalui kelembutan hati kepada sesama makhluk. Dengan mengintegrasikan ketiga dimensi ini, kita mampu membawa makna sujud ke dalam bentangan "sajadah panjang" kehidupan, menjadikan setiap sisa usia sebagai pengabdian yang tulus kepada-Nya.