Doktor Baru BDK Denpasar: Modal Pengetahuan dan Tanggung Jawab Institusional
  • Cucu Ardiah Ningrum
  • 5 Februari 2026
  • 60x Dilihat
  • Opini

Doktor Baru BDK Denpasar: Modal Pengetahuan dan Tanggung Jawab Institusional

Meraih gelar doktor sering kali menjadi impian banyak orang yang menapaki jalur akademik. Ia jelas pencapaian prestisius—bukan hanya secara personal, tetapi juga institusional. Dalam ekosistem pendidikan dan pelatihan aparatur, gelar doktor menandai kematangan berpikir, ketekunan metodologis, dan kemampuan memproduksi pengetahuan secara sistematis. Dalam konteks ini, BDK Denpasar patut mencatat satu momen penting: lahirnya tiga doktor baru dari Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja—Dr. Ni Made Sri Agustini, Dr. I Wayan Iwantara, dan Dr. Amalia Puspayanti—yang ketiganya merupakan widyaiswara BDK Denpasar.

Saya bersama rekan-rekan menyempatkan diri bolak-balik Badung–Singaraja selama dua hari untuk menyaksikan seminar terbuka disertasi mereka. Kehadiran ini sederhana saja maksudnya: memberi dukungan moral atas proses panjang yang mereka jalani. Kuliah doktoral sambil tetap bekerja sebagai aparatur negara jelas bukan perkara ringan. Banyak kompromi, banyak lelah, juga banyak kecemasan. Mereka berhasil melewatinya.

Dalam tradisi akademik, seminar terbuka adalah ruang selebrasi pengetahuan sekaligus arena uji legitimasi ilmiah. Suasana yang terasa sakral bukan sekadar formalitas, melainkan penanda bahwa gelar doktor lahir dari proses yang ketat, penuh ketegangan intelektual, dan dialog kritis. Bagi saya pribadi, forum ini menarik dibaca sebagai ruang transaksi pengetahuan—tempat ide diuji, dipertukarkan, dipertajam, lalu disahkan secara akademik.

Yang paling menarik perhatian dari ketiga disertasi tersebut adalah orientasi epistemiknya. Ketiganya tidak berhenti pada pengulangan teori pendidikan atau administrasi yang sudah mapan, tetapi berani melakukan sintesis, dialog, dan encountering antara teori pendidikan modern, praktik administrasi pendidikan, dan nilai-nilai lokal Bali.
Dr. Ni Made Sri Agustini mengangkat menyame braye, Dr. I Wayan Iwantara mengelaborasi sagilik saguluk salunglung sabayantaka, dan Dr. Amalia Puspayanti mengembangkan konsep kepemimpinan among.

Nilai-nilai ini jelas berakar kuat pada ranah antropologi dan kearifan lokal. Namun keunggulan akademik ketiganya justru tampak pada keberanian metodologis: mendialogkan nilai lokal dengan teori administrasi dan pendidikan yang banyak bersumber dari tradisi Barat, lalu mengujinya dalam konteks pendidikan sebagai ruang eksperimen empiris. Apresiasi dari para penguji dan pembimbing menjadi penanda bahwa upaya ini tidak terjebak pada romantisme lokalitas, tetapi berhasil menghadirkan novelty yang relevan dan sahih secara akademik.

Lebih jauh lagi, nilai-nilai lokal tersebut tidak dibiarkan berhenti sebagai slogan normatif atau simbol budaya. Ia dikonstruksi sebagai variabel konseptual, dikuantifikasi, dan didialogkan secara sistematis dengan teori pendidikan dan administrasi pendidikan. Dengan cara ini, kearifan lokal benar-benar bekerja: bisa dianalisis, diukur, dan dioperasionalkan dalam praktik manajerial pendidikan.

Dari sudut pandang institusional, capaian ini jelas memperkuat modal pengetahuan BDK Denpasar. Kehadiran doktor-doktor baru melengkapi sumber daya manusia yang telah lebih dulu mencapai jenjang akademik tertinggi, sekaligus menjadi sinyal bahwa BDK Denpasar punya amunisi intelektual yang cukup untuk ikut mendorong agenda besar Kemenag Berdampak. Tentu saja, ini juga membawa konsekuensi: gelar doktor melekatkan tanggung jawab untuk terus menjaga budaya akademik—rajin membaca, meneliti, menulis, dan memproduksi pengetahuan yang relevan bagi kebijakan dan praktik pelatihan.

Selamat untuk para doktor baru BDK Denpasar.
Yang lain, menyusul ya.