Cheap Is A Gold
Pernahkah anda bertanya mengapa drama China bisa begitu populer di seantero dunia? Ia ditonton berjuta-juta orang, diterjemahkan ke puluhan bahasa, dipotong menjadi klip-klip pendek di media sosial, dan beredar masif melalui berbagai platform digital di berbagai negara. Yang lebih menarik, penontonnya datang dari seluruh lapisan kelas sosial. Dari pekerja harian hingga pejabat negara. Bahkan, dalam sebuah wawancara, Menteri Keuangan Purbaya mengaku menonton drama China di sela-sela waktunya.
Padahal plot ceritanya sering kali simpel, berulang, dan mudah ditebak. Konflik hadir nyaris dengan pola yang sama, bahkan pada beberapa judul, tokoh utamanya tampak seperti tidak pernah berganti baju dari awal hingga akhir cerita. Namun justru di tengah kesederhanaan dan keterulangan itulah, drama-drama ini tetap digemari dan terus diproduksi tanpa kehilangan pasar.
China sekali lagi menunjukkan strategi klasiknya: cheap is a gold. Sejak lama, produk-produk buatan China dikenal tidak mahal—murah meriah, mudah diakses, tetapi mampu menembus pasar global. Baju, pulpen, dan berbagai barang tiruan bertanda made in China dapat ditemukan hampir di semua negara, bahkan di Amerika Serikat sekalipun. Pola yang sama kini bekerja di ranah budaya. Dalam dunia maya, China berhasil membaca logika budaya massa global: apa yang murah secara produksi, sederhana secara bentuk, dan mudah dikonsumsi justru memiliki daya sebar paling luas.
“Cheap” dalam konteks film dan drama China tidak berarti murahan secara harga, melainkan murah secara kognitif dan afektif. Dracin tidak menuntut penonton untuk memahami konteks sejarah, politik, atau budaya yang rumit. Ia bekerja melalui emosi-emosi yang bersifat universal—cinta, kehilangan, pengorbanan, hingga pembalasan atas kejahatan—yang disusun dalam struktur naratif yang stabil dan mudah diikuti.
Dalam kajian cultural studies, budaya populer dipahami sebagai ruang produksi makna yang bekerja melalui repetisi dan keterbiasaan. Penonton datang bukan untuk mencari kejutan teknologi atau spektakel visual seperti saat menonton Avatar, melainkan untuk menikmati pengulangan yang justru menenangkan. Dalam pengertian ini, dracin memang banal—bahkan bisa dikatakan gagal secara estetika—namun justru berhasil sebagai teknologi afeksi yang mengelola emosi penontonnya secara konsisten.
Homi K. Bhabha membantu membaca strategi ini melalui konsep mimikri—almost the same, but not quite. Dracin meniru struktur drama global, mulai dari soap opera Amerika Latin, melodrama Korea, hingga romansa Hollywood, tetapi dengan infleksi khas China. Ia cukup mirip untuk segera dikenali, namun cukup berbeda untuk menandai identitasnya sendiri. Melalui mimikri inilah China tidak tampil asing di mata penonton global. Ia masuk menggunakan bahasa budaya yang sudah akrab, sembari perlahan menanamkan sensibilitasnya sendiri.
Dracin Sebagai Soft Power
Dracin tampaknya mulai berfungsi untuk mendukung cita-cita China menjadi negara adidaya melalui pendekatan soft power. Ia bekerja melalui daya tarik budaya, nilai, dan institusi moral. Dalam cerita-ceritanya, China tidak muncul sebagai negara komunis yang represif, melainkan sebagai ruang romantik, kolosal, modern, dan teknologis, sekaligus sarat emosi.
China tidak lagi hadir sekadar kekuatan militer-ekonomi. Kini, ia juga muncul sebagai pabrik emosi global—menciptakan narasi yang menggerakkan perasaan jutaan penonton di seluruh dunia, dari kota besar hingga layar ponsel di rumah-rumah sederhana untuk menengok kebudayaan China.
Penonton di seluruh dunia belajar tentang China bukan dari buku geopolitik atau laporan resmi, tetapi melalui kota-kota futuristic atau istana masa lalu yang megah, keluarga yang harmonis, tokoh-tokoh kaya yang menunjukkan meritokrasi, perempuan kuat yang emosional namun rasional, dan lelaki dingin yang tetap setia. China sedang menarik imajinasi global untuk menerima budayanya.
Strategi dracin juga menghasilkan keuntungan finansial yang luar biasa bagi industri hiburan China. Kesederhanaan cerita dan formula yang berulang bukan hanya memudahkan penetrasi global, tetapi juga meminimalkan risiko produksi, sehingga margin keuntungan meningkat pesat.
Para penonton yang mengonsumsi konten tidak hanya menjadi audiens pasif, tetapi juga bagian dari ekosistem ekonomi—dari iklan yang ditargetkan, langganan platform, hingga interaksi di media sosial yang menghasilkan data bernilai tinggi. Bahkan, penonton pun berpeluang mendapatkan penghasilan dari jumlah durasi tontonan.
Dengan kata lain, dracin tidak hanya menciptakan afeksi dan membentuk imajinasi global, tetapi juga mengubah perhatian dan emosi menjadi mata uang digital yang mengalir langsung ke kas industri kreatif China.
Algoritma sebagai Infrastruktur Soft Power
Jika Hollywood dibangun di atas kekuatan studio dan diplomasi budaya negara, maka dracin menemukan kekuatannya melalui algoritma platform kapitalisme digital. TikTok, YouTube, Netflix, dan berbagai platform Asia berfungsi sebagai infrastruktur atraksi, menyalurkan cerita-cerita China ke seluruh penjuru dunia.
Algoritma tidak peduli geopolitik; yang ia ukur hanyalah engagement, interaksi, dan daya tarik perhatian. Dalam konteks ini, dracin menjadi mesin engagement yang sempurna. Kesederhanaan dan keterulangannya—yang bisa disebut banalitas—justru menjadi keunggulan strategis. Cerita mudah dipotong menjadi klip-klip viral, cepat memicu emosi, dapat dikonsumsi secara fragmentaris, dan tidak menuntut konteks panjang.
Dengan begitu, soft power China tidak lagi hanya bergantung pada kebijakan negara, tetapi di-outsourcing ke ekosistem platform digital global. Negara, industri kreatif, dan algoritma membentuk simbiosis yang mungkin tidak sepenuhnya terkoordinasi, namun berjalan dengan sangat efektif, menanamkan pengaruh budaya China secara universal.
Pertanyaan yang relevan saat ini bukan apakah dracin itu banal atau berkualitas. Pertanyaannya lebih mendasar: apa yang terjadi pada imajinasi global ketika banalitas, afeksi, dan algoritma bersatu sebagai kekuatan geopolitik? Di titik itulah dracin mulai berfungsi sebagai infrastruktur kultural kekuasaan global China.
5 Juni 2020
26 Desember 2022