Budaya Akademik
  • Admin
  • 21 Januari 2026
  • 370x Dilihat
  • Opini

Budaya Akademik

Saya baru sebulan berada di Balai Diklat Denpasar. Waktu yang singkat tentu belum cukup untuk menarik kesimpulan besar, apalagi mengklaim pemahaman yang utuh. Namun dari perjumpaan awal dengan berbagai level tim kerja, percakapan informal, dan dinamika keseharian, saya menangkap satu potensi penting yang menurut saya layak dirawat sejak dini: pengetahuan.

Core bisnis Balai Diklat adalah mengelola pengetahuan sebagai modal pengembangan kapasitas sumber daya manusia Kementerian Agama dan masyarakat beragama. Pengetahuan yang dikelola di BDK memang tidak ditempatkan sebagai pengetahuan teoritis sebagaimana di perguruan tinggi, melainkan pengetahuan yang bersifat praktis dan aplikatif. Fokusnya adalah memastikan pengetahuan tersebut dapat digunakan secara langsung untuk menopang pelaksanaan tugas, meningkatkan kompetensi, serta mendukung pembangunan nasional di bidang agama.

Namun demikian, pengetahuan yang bersifat praktis dan aplikatif itu tetaplah pengetahuan. Ia tetap membutuhkan proses pengolahan, refleksi, dan pembelajaran yang sistematis agar dapat berkembang dan memberi dampak. Karena itu, corporate culture yang seharusnya dibangun di Balai Diklat adalah budaya akademik—budaya kerja yang menempatkan pengetahuan sebagai fondasi utama dalam setiap proses pelatihan dan pengembangan kapasitas.

Budaya akademik, bagi saya, ditopang oleh dua hal mendasar: refleksi dan reproduksi pengetahuan. Refleksi merupakan proses penting untuk menginternalisasi pengetahuan yang bersifat eksplisit menjadi tacit knowledge, yakni pengetahuan yang hidup dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Tanpa refleksi, pengetahuan mudah berhenti sebagai informasi, tidak benar-benar menjadi bagian dari kapasitas diri.

Untuk kepentingan itulah saya menginisiasi forum Selasar (Selasa Belajar). Forum ini saya bayangkan sebagai ruang aman untuk berpikir, berdiskusi, dan belajar bersama lintas tema, tanpa beban harus selalu benar atau harus selalu sampai pada kesimpulan. Selasar terbuka bagi siapa saja dan untuk jumlah berapa pun yang ingin tumbuh bersama, karena belajar, pada dasarnya, adalah proses kolektif yang tidak selalu selesai dalam satu waktu.

Sementara itu, reproduksi pengetahuan saya dorong melalui menulis. BDK Denpasar menyediakan ruang untuk itu, melalui web dan jurnal. Saya sendiri memanfaatkannya untuk menyalurkan pikiran dan membiasakan diri dengan budaya akademik. Web terasa santai, fleksibel untuk menulis apa saja, sedangkan jurnal memberi kesempatan untuk menulis lebih serius dan terstruktur. Pilihan ada di tangan siapa pun yang ingin menulis.

Ruang reproduksi lain yang rutin adalah kelas. Di sana, pikiran-pikiran yang muncul dari refleksi dan diskusi menemukan jalannya kembali—diucapkan, diuji, dan bergerak bersama peserta. Ruang kelas membuka kemungkinan, interaksi berkembang, dan pengetahuan terus bergerak, tanpa ujung yang harus dicapai.

Dalam seluruh proses ini, saya melihat Widyaiswara (WI) sebagai inti Balai Diklat. Mereka adalah identitas akademik BDK, setara dengan peran dosen di perguruan tinggi, dan dari mereka lah kualitas belajar-mengajar, refleksi, serta pengolahan pengetahuan banyak bergantung.

Saya menyadari bahwa energi, kreativitas, dan kapasitas WI adalah napas lembaga ini. Ketika WI diberdayakan, terus belajar, menulis, berdiskusi, dan mengajar dengan leluasa, inilah yang akan membawa Balai Diklat tumbuh dan memberi dampak nyata bagi peserta dan masyarakat. WI Berdaya, BDK Berjaya.